UTS_Artikel Jurnalistik_ Kasus Ferdy Sambo Curi Perhatian. masyarakat : Semua Polisi Sama Saja
Kasus Ferdy Sambo Curi Perhatian. Masyarakat : Semua Polisi Sama Saja
Kasus Ferdy Sambo akhir-akhir ini menduduki peringkat berita paling viral di tahun 2022. Kasus ini menjadi sangat ramai disegala media sosial. Banyak yang mengatakan bahwasanya dalam kasus ini banyak penyidik yang takut akan kekuasaan Ferdy Sambo. Hal itu mencuat setelah berita viral mengenai penyidik yang memanggil Ferdy Sambo dengan panggilan Jendral saat rekontruksi berlangsung di Duren Tiga, Jakarta Selatan. Selasa (30/8/2022).
Irjen Pol Dedi Prasetyo Kepala Divisi Humas Polri menegaskan bahwasnya tidak ada penyidik yang takut dengan Ferdy Sambo, karena yang bersangkutan sudah ditetapkan menjadi tersangka. Hal tersebut dibuktikan dengan diterbitkannya surat pemberhetian dengan tidak hormat yang ditunjukan untuk Ferdy Sambo. Surat tersebut menjadi bukti bahwasanya Ferdy sambo sudah tidak mempunyai kekuasaan lagi, sehingga diharapkan tidak ada penyidik yang takut akan Ferdy Sambo.
Hal itu juga didukung oleh pernyataan dari kepala divisi humnas porli "Ditakutin apanya,sudah jadi tersangka,di-PTDH dan ditahankan", Rabu (31/8/2022). Namun walaupun kasus Ferdy Sambo sudah ditangani dengan baik oleh pihak kepolisian. Masyarakat sudah enggan percaya bahkan parno dan menganggap semua anggota polisi tidak ada yang baik saat ini. Pasalnya dari kasus ini sendiri awalnya banyak anggota polisi yang bekerjasama dengan Ferdy Sambo untuk menutupi kasus pembunuhan Brigadir J, hal ini dilihat dari beberapa pernyataan saksi maupun tersangka yang selalu berubah-ubah seperti mencari celah untuk membela Ferdy Sambo dan Istri. Selain itu bukti hasil forensik antara penyidik pertama dengan penyidik berikutnya ditemui beberapa perbedaan dan kejanggalan, dan juga cctv serta handphone milik korban seakan-akan dihilangkan keberadaanya dengan berbagai macam alasan. Hal-hal tersebut membuat stigma masyarakat menjadi ragu akan kinerja kepolisian. Hanya karena kekuasaan banyak pihak yang tidak memikirkan kemanusiaan dan keadilan.
Dilansir dari disway.id Kapolri Jendral Listyo Sigit Prabowo memahami bahwa kepercayaan masyarkat terhadap institusi Polri mulai goyah pasca munculnya kasus Ferdy Sambo. Apalagi kasus tersebut dinilai sangat sensitif yakni kasus seorang atasan yang menjadi tersangka pembunuhan dari bawahannya sendiri. Sebenarnya sebelum kasus Ferdy Sambo ini viral dibeberapa lembaga Survei pada Desember 2021 hingga Juli 2022, kepercayaan masyarakat sempat naik. Namun setelah muncul penembakan di Duren Tiga kepercayaan publik langsung menurun. Hal ini dapat dilihat dari data Hasil temuan dan analisis survei nasional lingkungan survei Indonesia yang pada awalnya dari 72,1% sebelum kasus menurun 13% hingga menjadi 59,1%. Survei ini dilakukan pada 11 sampai 20 September 2022 kepada 1.200 responden.
Lalu mengapa hal ini bisa terjadi?. Kasus Ferdy Sambo berbeda dengan kasus yang lain, kasus ini seperti layaknya sebuah pertunjukan drama yang penuh isu panas dan perubahan karakter. Mulai dari suami bela istri, penyalahgunaan jabatan, tuduhan uang gelap judi online hingga narkoba. Kasus ini sangat dramatis selayaknya sinetron yang ada pada tayangan televisi. Dampak kasus Ferdi Sambo juga menyeret 24 anggota polisi yang tidak bersalah atas kasus ini. Karena kasus ini mereka yang hanya seorang bawahan harus ikut terbawa urusan atasanya. Salah satunya adalah Bharada E yang sekarang menjadi tersangka pembunuhan Brigadir J. Bharada E terlibat lantaran berperan sebagai penembak sosok Brigadir J. Penembakan tersebut juag disaksikan oleh rekannya yakni Bripka RR yang juga juga dijadikan sebagai tersangka akibat mengetahui kejadian tersebut tetapi tidak melaporkan adanya rencana tersebut.
Berdasarkan semua permasalahan tersebut sebaiknya Humnas Porli harus membuat gebrakan baru agar dapat mengubah stigma masyarakat agar mempercayai kembali semua anggota polisi. Masyarkat juga ingin agar kasus pembunuhan Brigadir J segera terselesaikan dengan seadil-adilnya. Semoga dengan adanya kasus ini bisa menjadi pembelajaran bagi semua pihak agar tidak mempersalah gunakan kekuasaan dan juga menjadi contoh kasus yang diharapkan tidak terulang untuk kedua kalinya

Komentar
Posting Komentar