UAS_Dilema Guru di SMP Muhammdiyah 7 bayat.

Dilema Guru di SMP Muhammdiyah 7 bayat.




 Pada era sekarang seperti ini SMP Muhammadiyah 7 Bayat yang beralamatkan kecamatan Bayat, kabupaten Klaten masih banyak guru honorer yang belum diangkat menjadi PNS walaupun sudah mengabdi sampai belasan tahun. Hal ini dikarenakan dipersulitnya guru diangkat menjadi pegawai tetap oleh penmerintah. Contohnya saja saat tes CPNS pada tahun 2018 kuota penerimaan guru disinyalir kuat dan banyak kuota namun ternyata mentri pendidikan dan kebudayaan Muhadjir Effendy tidak memberi jaminan apakah jumlah tersebut diprioritaskan untuk guru honorer. Apalagi pada tahun 2023 ini Guru sudah tidak bisa diangkat menjadi PNS dan hanya bisa mendaftar menjadi PPPK. Dilansir dari wikipedia Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja(disingkat PPPK) adalah Warga Negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, yang diangkat berdasarkan perjanjian kerja untuk jangka waktu tertentu dalam rangka melaksanakan tugas pemerintahan.Kedudukan hukum PPPK sebagai ASN diatur dalam UU Nomor 5 Tahun 2014 dan turunannya pada PP 11 Tahun 2017, PP Nomor 49 Tahun 2018 tentang Manajemen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja dan Peraturan Badan Kepegawaian Negara tentang Petunjuk Teknis Pengadaan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja.

Manajemen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) adalah pengelolaan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja untuk menghasilkan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang profesional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme.


Rasa cemas para guru honorer terpancar saat melihat berita tersebut dengan sedih dan penuh derita. Para guru merasa cemas dan saling pandang sembari meratapi nasib. 

Itu adalah gambaran para guru-guru di SMP Muhammadiyah 7 Bayat. Setelah menunggu bertahun2 untuk mencoba menjadi PNS harapan mereka justru dipatahkan karena PPPK tersebut. Guru di SMP Muhammadiyah 7 Bayat sangat dilema dimana memang mereka mempunyai keingin kuat untuk mengabdi menjadi guru yang membangun insan berharga yang nantinya akan memajukan negeri ini. Namun keingin mengabdi tidak lantas membuat mereka ikhlas menjadi profesi mereka menjadi seorang guru. Gaji yang relatif kecil bagi kehidupan dijaman sekarang ini. Membuat mereka berfikir ulang apakah harus tetap menjadi guru hanya bermodalkan ikhlas atau merelakn pekerjaan mulia tersebut.  Banyak dari para guru sampai harus mencari pekerjaan sampingan seperti berjualan, menjadi guru les dan guru ngaji. Hal itu semata-mata karena untuk mencukupi kebutuhan yang tak terpenuhi dari penghasilan menjadi seorang guru 

Menurut Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, guru adalah pendidik profesional dengn tugas utama mendidik, mengajar,membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Dari banyaknya tugas guru tersebut apakah sebanding dengan bayaran tiap bulannya. Pengabdian yang sangat besar justru dihargai sangat kecil. Apalagi guru pada jaman sekarang ini dituntut untuk mempunyai kemampuan yang dimana guru harus bisa berinteraksi, membina karakter, jujur, sabar, dapat diteladani, profesional, dan kuga keterampilan tingkat tinggi lainnya. 

Pengabdian guru dapat dimaknai sebagai tindakan yang bersungguh-sungguh untuk mempersiapkan diri peserta didik. Selain itu bentuk pengabdian guru lainnya adalah memberikan perhatian yang menyeluruh bagi seluruh peserta didiknya.

Dari hal/hal tersebut dapat direnungkan kembali apakah pantas bagi seorang guru mendapatkan balasan jada dengan pengasilan kecil lalu kemudian dicaci dengan kalimat "jadi guru itu ambil barokahnya saja. Gaji tidak penting". Padahal gaji / pendapatan merupakan hal sentral dalam kehidupan. Bagaimana guru honorer bisa makmur kalau hanya di gaji 25/ jam mata pelajaran dan mungkin jika dihitung bulanan hanya sebesar 700-800 rupiah


Banyak guru honorer saling aktif menjalin komunikasi dengan guru honorer lainnya. Pada SMP Muhammadiyah 7 Bayat guru honorer saling menghibur satu sama lain agar tidak menjadi sebuah kesedihan berlarut. Selain itu guru-guru pada SMP Muhammadiyah 7 Bayat juga selalu melakukan hiburan seperti jalan-jalan di sekitar bayat setiap satu bulan sekali. Jalan-jalan ini gratis karena hanya berada didaerah bayat, hal ini dilakukan agar guru tidak gampang stres dan agar bisa merefreshkan pikiran.

Guru juga dituntut untuk selalu prima untuk melayani kebutuhan peserta didik dan membantunya dalam belajar. Namun jika dibalik apakah guru bisa prima dengan penghasilan tersebut? Apakah ada jaminan penghasilan tersebut cukup untuk memenuhi semua gizinya. Tentu itu kembali ke pribadi masing-masing namun memang kebanyakan guru honorer kurang mendapatkan pendapatan yang layak yang membuat hidup mereka jauh dari kata mapan.

Dengan demikian hal ini akan mengasilkan pertanyaan bagi sebagian kalangan untuk memilih profesi atau kebutuhan. Semoga para guru diberikan keteguhan hati untuk dapat melaksanakan tugas profesi pengabdian terhadap peserta didik yang nantinya akan berjasa bagi bangsa dan negara.

Komentar