UAS_Sejarah Makam Ki Ageng Gribig
Sejarah Makam Ki Ageng Gribig
Ki Ageng Gribig merupakan salah satu tokoh penyebar agama islam di Indonesia. Namanya terkenal sejak tahun 1600-an. Nama Ki Ageng Gribig awal mulanya terkenal di daerah Malang dikarenakan ia menjadi salah satu pendiri kota Malang. Kisah pada diri Ki Ageng Gribig masih menjadi misteri. Konon katanya Ki Ageng Gribig merupakan sosok yang memiliki hobi berkelana ke tempat-tempat jauh. Tujuannya, ia ingin memperkuat iman sambil menimba ilmu. Dilansir melalui akun sosial media Kisah Cerita Waliyullah, Ki Ageng Gribig bernama asli Wasibagno Timur, atau Syekh Wasihatno. Disebutkan, Ki Ageng Gribig merupakan keturunan dari Prabu Brawijaya V, raja terakhir kerajaan Majapahit. Ki Ageng Gribig merupakan keturunan dari sunan gersik dan merupakan anak dari Sunan Prapen. Kematian Ki Ageng Gribig menjadi sebuah misteri dikarenakn banyak yang percaya bahwa makam tersebut berada di kota Malang namun adapula yang yakin bahwa makam Ki Ageng Gribig berada di kota Klaten tepatnya di kecamatan Jatinom. Komplek makam Ki Ageng Gribig merupakan salah satu tempat yang dikeramatkan. Pada waktu tertentu, ada saja peziarah yang datang meramaikan makam. Peziarah pada umumnya datang dengan tujuan khusus, seperti mencari berkah keselamatan, penglarisan, dan bahkan berburu pusaka.
Di area makam ada gapura lengkung tiga dengan lambang kerajaan di puncaknya, serta tulisan-tulisan yang menggunakan huruf Jawa yang saya tak tau artinya. Sebuah makam dengan nisan unik dengan torehan angka 1821 di permukaannya. Saya melewati makam tersebut saat berjalan menuju ke cungkup utama dimana Makam Ki Ageng Gribig berada.
Cungkup utama Makam Ki Ageng Gribig terlihat bersih dan terawat. Beberapa makam tua terlihat berada di luar cungkup. Menggantung di atas pintu ada beberapa baris tulisan. Tulisan yang di kanan berbunyi: Hambabar ubaling karso, hadedasar poncasila, hangudi luhuring bongso, hangayati kanti waspodo, handayani sentoso karto-raharjo
Pada makam Ki Ageng Gribig yang berada di Jatinom terdapat sebuah tradisi yang bernama saparan Yaqowiyu. Sebuah ritual penyebaran kue apem yang biasanya akan diperebutkan oleh pengunjung. Tradisi tersebut biasanya diadakan sekitar tanggal 15 bulan Safar pada penanggalan Hijriyah. Tradisi ini bermula ketika Ki Ageng Gribig pulang dari tanah suci membawa oleh-oleh kue apem. Anehnya, kue yang dibawa oleh Ki Ageng Gribig tersebut masih hangat. Para santri pun berebut mendapatkan oleh-oleh tersebut. Karena tidak cukup, maka Nyi Ageng Gribig membuat apem yang pun dibagikan kepada penduduk Jatinom. Banyak yang beraggapan bahwa Ki Ageng Gribig mempunyai ilmu yang dimana ia bisa berpindah dalam suatu tempat ke tempat lain, hal inilah yang menyebabkan kue apem yang dibawa Ki Ageng Gribig dari Tanah Suci masih terasa Hangat. Semenjak saat itu, masyarakat Jatinom mengikuti dengan membuat apem, untuk keselamatan dan sebagai perayaan untuk mengenang Ki Ageng Gribig
Selain itu pada kompleks pemakanan Ki Ageng Gribig terdapat masjid yang konon katanya dibangun sendiri oleh beliau. Masjid buatan Kyai Ageng Gribig yang dibuat dari jati serta bedug dan tabuhnya adalah yang dinamakan masjid kecil, namun tinggal tabuhnya saja yang tahun 1800 masih ada di Masjid Solo. Lokasi pohon jatinya berada di dalam masjid di sudut tenggara.
Adapun kisah yang cukup menarik bagi saya adalah mengenai petilasan Ki Ageng Gribig. Menurut masyarakat setempat oro-oro menjadi tempat bersemedi atau bersujud. Ki Ageng menamakan Oro-Oro Tarwiyah karena terdapat dua buah batu Pasujudan yang diletakan di dalam rumah kecil. Adapula petilasan lain di dekat masjid kecil Jatinom terdapat dua buah sumur, yang juga ada di dekat masjid besar. Sumur itu menuruti kehendak Kyai Ageng dipindahkan ke lereng Sungai Soka dan dikenal sebagai Sendang Suran yang artinya sur-suran. Menurut keyakinan orang, airnya bisa digunakan untuk mengobati segala penyakit manusia dan binatang piaraan.
Petilasan yang juga sangat terkenal adalah Gua Belan, yang selain untuk bertapa juga untuk bersembahyang sehingga di dalam gua ada tempat untuk berwudlu. Untuk masuk gua itu orang harus jalan berlutut dan lebarnya cukup untuk satu orang. Di dalamnya ada ruang-ruang untuk ruang bersemedi dan bertapa.
Selain itu mitos yang ada pada tempat wisata regili ini adalah konon daerah Jatinom dulu sangat banyak dihuni lelembut, yang malam hari mengeluarkan macam suara-suara. Atas kehendak Ki Ageng Gribig , demit-demit itu pun dikumpulkan menjadi dalam satu sendang, yang sekarang disebut sebagai Sendang Teruwes. Ada pula Sendang Brubyah tempat beliau memberikan ilmu kepada murid-muridnya.
Dari segala cerita dan mitos yang ada pada Makam Ki Ageng Gribig membuat saya mengerti akan hal-hal baru mengenai tempat ini. Dibalik beberapa sejarah mengenai Makam Ki Ageng Gribig ini terdapat fakta lain bahwa suasana saat saya datang kesana sangatlah sejuk dan nyaman. Saya bisa merasakan ketenangan serta mendapatkan ilmu baru saat berkunjung kesana.

Komentar
Posting Komentar